Rabu, 25 Januari 2017

#Day8KF : Prasangkamu Itu Salah.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Banyak sekali orang yang belum mengenal kita dengan baik namun sudah berkomentar. Dianggap begini. Dianggap begitu. Seolah-olah yang mereka sangka-kan itu benar adanya. Namun, kembali pada faktanya, semua berbanding terbalik dengan perkiraan itu.

Well, tidak bisa dipungkiri, setiap pribadi itu bisa pro dan kontra dengan diri kita sendiri. Tidak semuanya bisa menerima dan menyukai kita. Yaps! Karena setiap pribadi punya pendapatnya masing-masing dan punya rasa ketertarikan berbeda-beda.

Aku sendiri, pernah disangka begini. Padahal faktanya begitu. Yaa, untuk itu perlu sikap tabayyun, what is tabayyun? Secara bahasa memiliki arti mencari kebenaran tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Atau dengan kata lain konfirmasi dulu sebelum menyimpulkan. Jadinya kan jelas! Terus, apa aja sih yang mereka sangka-kan tentang aku? Let’s check this out~


  1. Muslimah pecicilan. Haha, ada ya title begitu? Ada, dan itu aku. Ada yang menyangka kalau aku itu pecicilan. Sebenarnya bukan pecicilan, tapi aku orangnya supel. I’m very welcome with others. Aku lagi berusaha untuk bisa bergabung. Why? Karena aku tidak mau meng-eksklusif-kan diri. Aku nggak mau dianggap special hanya karena cara berpakaianku, ilmu tentang agama, dan lainnya. Aku siapa sih? Makhluk-Nya yang tak luput dari dosa.
  2. Penurut. Wuaha, aku bukan tipe penurut. Ya, sebenarnya sih tergantung. Penurut dalam apa dulu? Kebaikan atau keburukan? Kalau baik mah insyaAllah, kalau yang buruk mah pikir double. Logika aja! Kalau nggak sesuai sama kata hati yaa aku memberontak.
  3. Baperan. It’s okay, aku mengakui-nya. Aku memang baperan. Tetapi nggak ada yang salah kan ketika bapernya tersalurkan pada tempat yang tepat? Sebenarnya aku bukan baperan, mung atiku ki ra tega :’(
  4. Kalem. Wah ini yang bilang begini SALAH BESAR! Hurufnya harus besar, pakai bold dan italic. Tenang, aku pernah kalem kok.. dulu sih -_- Sebenarnya, aku tipikal yang seneng sama kesendirian, tapi juga seneng sama keramaian. So, pas aku dikeramaian yaa aku nggak kalem, aku ceriwis :D
  5. Santai. Banyak sih yang mengira kalau hidupku tuh santai aja, nggak fighting buat masa depan. Padahal sebenarnya nggak kayak gitu. Aku diam-diam juga fighting kok. Aku emang sengaja nggak diekspos #aish bahasanya -_- Biar jadi kejutan, haha..

Nah loh, siapa yang mengira aku dengan ke-lima nomor diatas? Itu mah salah besar :D So, budayakan tabayyun sebelum menyimpulkan ya? Nggak ada salahnya kok menegur dan tanya, asal batas wajar aja. Semangat menulis masih 2 hari lagi~

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Selasa, 24 Januari 2017

#Day7KF : Aku Kuat! Merelakan-nya.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Aku perlu semen dan pasir biar bisa kuat! | Etdah, dikira mau bangun pondasi, wkwk :D
Aku perlu makan yang banyak! | Ngapain? | Biar kuat ngadepin kenyataan | LOL :v
Aku butuh minum susu. | Buat apa? | Biar tulangku kuat memikul beban kehidupan | Wuahaha *gubrak

Maafkan atas lelucon diatas. Sungguh, aku hanya ingin mencairkan suasana~
Pada suatu masa silam, aku pernah terjatuh. Terjatuh karena ego-ku sendiri. Aku pernah mencintai dengan sangat. Namun, pada akhirnya aku hanyalah menjadi hal yang berlalu. Ya, aku mencintainya. Tanpa meminta dia membalasnya. Ini perasaanku. Biarlah mengalir apa adanya. Jangan risaukan perasaan ini. Tak apa jika pada kenyataannya tidak berbalas. Aku pun sudah cukup lega ketika dia mengetahuinya.


Waktu berlalu tanpa terasa. Hingga pada waktu itu, aku tersandung batu. Batu yang membuatku menyadarinya. Bukan aku pilihannya! Melainkan dia yang lain. Tidak apa-apa. Aku menerimanya, bukankah aku menyukaimu tanpa mengharap?

Sedih rasanya menerima kenyataan itu. Sedih ketika melihat orang yang dicintai dengan dia yang lain. Sedih, sedih dan sedih. Aku hanya terus berbaik sangka. Menahan ego-ku untuk memaksamu menyukaiku. Ah, itu tidak perlu! Aku hanya ingin dicintai sepenuh hati, bukan keterpaksaan.

Aku kehilangan logika. Otakku tidak lagi waras. Mataku buta dengan keindahan rasa. Hatiku tergelincir, dipenuhi oleh harapan yang tinggi. Begitulah orang jatuh cinta, susah membedakan antara simpul dusta maupun simpul nyata. Pada akhirnya, hati-lah yang menjadi korban. Perasaan menjadi runtuh dan hancur. Hah! Aku gila.

Aku merenung. Aku menangis. Tuhan, sekejam inikah cinta? Mencintai tanpa mengharap itu berat. Hati dengan mudahnya terbolak-balik. Aku bisa berbicara: tanpa mengharap. Hatiku? Ia berbicara: semoga. Aku benci tatkala harus mengingatnya lagi!

Sudah. Usai saja peperangan itu. Tikam dan bunuh perasaan itu. Tidak pantas dia hidup didasar hati. Pikirku demikian. Sederhana. Singkat. Pada kenyataanya: berat. Untuk meninggalkan semua rasa yang pernah ada itu berat. Untuk melihat kenyataannya itu berat. Berat sekali!

Pada akhirnya, semua hal yang terasa berat itu sirna. Berganti dengan kelapangan. Tidak lagi ada beban di hati. Tidak lagi ada rasa yang menyesakkan dada. Aku tahu bahwa; aku kuat. Dengan merelakan-nya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Senin, 23 Januari 2017

#Day6KF : Diremehkan (tidak) Selalu Menyakitkan!

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pernah nggak kamu diremehkan? Pernah. Sakit nggak diremehkan? Sakit banget. Well, semua orang pun merasa demikian. Siapa sih yang nggak sakit hati waktu diremehkan? Seolah-olah kayak kita itu nggak bisa melakukan itu. Padahal nggak ada yang mustahil kan kalau kita mau berusaha?

Disekitarmu, banyak sekali pihak yang mencoba menjatuhkanmu. Mereka seakan-akan men-sugesti kamu untuk gagal. Tapi apa sampai disitu saja? Tidak. Kegagalanmu itu pintu kesuksesanmu. Mereka akan diam jika kamu bisa membuktikannya!

Lantas, bagaimana dengan diremehkan itu (tidak) selalu menyakitkan? Komentar mereka itu pedas macam sambal, cabai, dll. Iya benar! Tapi nggak semua hal yang diremehkan itu bisa diberi label “menyakitkan”. Coba telaah lagi! Komentar mereka justru bisa menjadi kritik yang membangun.

Aku pun demikian, pernah diremehkan! Tapi coba telaah lagi ceritaku ini: diremehkan itu rasanya sakit, melebihi rasa sakit yang paling sakit #eh. Muter-muter :D Aku pernah diremehkan kalau setelah lulus SMK, aku cuma nikah (re: nikah muda). Nggak salah sih nikah muda, kalau memang sudah mampu! Lah aku? Belum mampu dan masih belajar. Nggak mungkin kan aku nikah tanpa kesiapan? Iyalah! Aku akui, disekitarku itu masih budaya, kalau lulus sekolah, kerja, terakhir nikah. Kalau nggak gitu ya, abis lulus langsung nikah. Miris! Miris ketika melihat fakta itu. Karena dalam turun temurun sudah tertanam, kalau setelah menikah itu mengabdi pada suami (re: mengurusi suami dan anak saja). Iya benar sih, tapi kan masih ada urusan lain selain mengurusi suami? Bukannya perempuan masih bisa berusaha mewujudkan mimpinya ya? Kenyataanya disini tidak. Sudah, pada akhirnya perempuan itu hanya kembali ke dapur dan mengabdi pada suami. Just that!

Belajar dari cerita diatas dan melihat jutaan perempuan diluar sana yang bisa sukses mewujudkan mimpinya. Komentar mereka bisa menjadi kritik yang membangun buat aku, “perempuan tidak selamanya hanya berada di dapur dan mengabdi pada suami. Mereka pun perlu mewujudkan cita-citanya”. Dan realitanya? Aku masih bisa fighting sampai saat ini. Aku sekarang bisa kuliah. You see it! Walaupun pada akhirnya perempuan itu hanya kembali ke dapur. Tapi ilmu dan wawasan yang luas itu perlu! Aku masih harus belajar.

Semuanya tergantung bagaimana kita memilah komentar tersebut. Pada akhirnya kita juga tahu, mana yang diri kita sendiri!

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Minggu, 22 Januari 2017

#Day5KF : Film = Ruh

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Tema hari ini: 3 Film yang Berkesan

Zaman sekarang, tidak ada orang yang tidak suka menonton film. Hampir semuanya bahkan menyukainya. Bioskop pun mulai menjadi tempat yang semakin sering dikunjungi. Tidak jarang jika banyak sekali film-film yang bermunculan. Banyak sekali sutradara beradu kreatif untuk membuat film. Banyak sekali penulis naskah bermunculan dengan ide-ide yang sedemikian rupa.

Menurutku sendiri, sebuah film itu bisa dikatakan berhasil jika “pesan” atau “amanat” yang disampaikan itu bisa mengena dalam benak penonton. Tidak sebatas itu, menurutku dari “pesan” atau “amanat” tadi bisa diterapkan dalam kehidupan si penonton. Sehingga, selain film itu dibuat untuk menghibur penonton, pun juga dibuat untuk memberikan pesan-pesan.


Bagi diri aku sendiri, aku pun sama penyuka dan penikmat film. Aku pernah mengikuti kelas Fotografi, dimana kelas itu awal mulanya berniat untuk membuat sebuah film, tetapi apalah daya, semuanya selesai tatkala tak ada semangat lagi. Ah, aku jadi merindukannya! 😂 Aku suka film. Aku suka film dengan focus kamera men-shoot pemandangan ataupun sebuah keadaan hening dengan diiringi instrument dan disitulah letak “ruh” sebuah film tersebut. Sepertinya para sutradara mengajak penonton untuk menjiwai adegan itu. Maybe yes, maybe no. I love you #eh. I love film. But, film yang berkesan buatku? Ada! 

  1. PERAHU KERTAS. Well, tidak perlu jauh-jauh. Judul dari blog ini pun terinspirasi dari kesukaanku membuat perahu kertas dan aku mengagumi karya ibu suri, Dee Lestari. Entah kenapa, setelah khatam membaca novel dan menonton film Perahu Kertas, tidak tahu harus berkata apa. Seolah-olah mulut ini sudah terkunci untuk berkomentar. Namun, ada hal yang harus aku sampaikan pada kalian, kamu tahu sosok Kugy? Bahkan dalam novel dan dalam film pun sudah tergambar sebagai sosok yang unik. Bahkan cenderung gila. Tetapi aku suka karakternya, dia selalu riang dan percaya diri. Sementara Keenan? Keenan-lah yang melengkapi Kugy, seorang pelukis yang menjadi tambatan hati seorang penulis dongeng. Keenan digambarkan sebagai sosok ekstrovert, cenderung menutup diri namun punya mimpi besar akan bakatnya sendiri. Finally, film ini paling berkesan bagi aku! Karena aku menemukan percaya diriku disini, dari sosok Kugy. Ugh, I’m really love this fillm!
  2. SINGLE. Sebuah film komedi yang dibalut dengan drama. Difilm-kan secara apik dan disutradarai oleh Raditya Dika. Hmm, siapa sih yang nggak kenal Raditya Dika? Anak SD zaman sekarang pun sudah tahu! Penulis sekaligus komika dengan konsep absurd-nya ini justru lucu menurut pandangan saya. Dia unik. Beda dari yang lain. Kali ini aku dibuatnya tertawa sekaligus merenungi film ini. Banyak sudah karya-nya yang ku nikmati, tapi inilah yang berkesan. Kalian ingat adegan ketika Ebi mengambilkan ibu Marjan secangkir minum? Disitulah kunci dari filmnya, menurut aku. Disisi lain, dengan kebaikan dan ketulusan yang dimiliki Ebi mencoba memulihkan ingatan memasak ibu Marjan dan hal kecil itulah yang diingat ibu Marjan, seorang ibu yang kehilangan ingatan. Menurut aku, ini film komedi dan drama yang digabungkan menjadi kombinasi yang apik. Well, ini berkesan! Karena dalam hidup itu tidak melulu serius, ada kalanya kita bercanda, namun harus selalu diingat bahwa kebaikan dan ketulusan untuk membantu sesama itu pasti akan selalu diingat.
  3. 99 Cahaya Di Langit Eropa. Belum bisa move on dari film ini! Pertama kali dengar judulnya aku langsung ber-hah? Maksudnya apa ya? Penasaran.. aku cek. Yaps, ternyata sebuah drama yang dibungkus dengan travelling dan religi. Travelling ke luar negeri, menjelajah tempat-tempat ternama, itu sudah mainstream. Tetapi ini? Film ini membuka mata ini untuk belajar sejarah. Meski dibalut dengan drama, tetapi sejarah-sejarah lampau tidak luput dari dalam cerita. Karya Hanum Salsabilla Rais dan Rangga Almahendra ini sukses untuk membuka wawasan tentang Islam di Eropa. Seandainya, jika mau menjelajah, pasti-lah banyak temuan-temuan sejarah Islam di dunia ini. Ya, menurutku ruhnya adalah sisi religius. Melihat dari perkembangan film-film sebelumnya belum ada yang mengangkat tema drama dan travelling religi. 
Tiga film diatas-lah yang paling berkesan menurut aku. Banyak film lain yang berkesan, tapi setidaknya tiga film diatas adalah tiga film urutan teratas versi aku. Semangat menulis!

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Sabtu, 21 Januari 2017

Resolusi Blog 2017

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ciee sudah ganti tahun. Ganti harapan dan target juga dong? So, pasti! 😉

Manusia tumbuh setiap waktu. Dengan seiring pertumbuhannya, tentu saja menginginkan sebuah perubahan. Entah berupa perubahan besar ataupun kecil. Ketika waktu terus saja berjalan, tahun demi tahun berganti dengan begitu mudahnya. Umur manusia semakin bertambah, dari yang tadinya satu buah angka menjadi dua buah angka. Demikian pula, semakin bertambahnya angka dan semakin bertambahnya keinginan, mereka pasti menginginkan perubahan. Boleh disebut; resolusi.
Image by Google
Untuk diri ini pun, aku mempunyai resolusi. Tidak hanya satu. Bahkan dua, tiga sampai empat. Ada banyak harapan dan mimpi-mimpi yang aku punya. Terlebih dengan blog ini, aku menginginkan resolusi yang besar. Merubah format blog dan merombak semua isi blog. Begitulah aku berfikir singkatnya. Selebihnya, akan aku tuliskan dibawah ini :
  1. Cerpen. Aku ingin blog ini berisi cerpen, karyaku sendiri. Dengan begitu, aku berfikir untuk mewujudkannya dengan cara membaca banyak cerpen karya orang lain, dengan kata lain itu sebagai referensi-ku menulis cerpen.
  2. Review. Ini yang aku rencana-kan pada tahun kemarin, namun realitanya itu hanya wacana. Tidak pernah berjalan. Hanya mengendap di otak! Review ini berbentuk apapun, entah buku, kosmetik, film, dan yang lainnya.
  3. Pengalaman travelling. Banyak sekali bermunculan travel blogger. Pun tidak menggugurkan niatku untuk membagi cerita travellingku. Dengan kemudahanku mengakses dunia luar, aku ingin memanfaatkannya. Aku ingin menjelajah dunia, sekaligus menjajah hati kamu #eeakk 😍 Astagfirullah, istigfar!
  4. Dakwah. The last but not least, aku ingin menulis sekaligus berdakwah. Entah itu berbentuk cerpen, novel, ataupun artikel. So, blog-ku ini nanti sekaligus media untuk berdakwah. Bismillah 🙏
Sedikit sekali resolusi-ku. Ya, benar sekali! Aku pun merasa demikian, tetapi aku punya prinsip; sedikit namun terlaksana. InsyaAllah, doakan saja gaess 😁

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

#Day4KF : Pertemuan (yang) Terlambat

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Tema hari ini: tanpa menyebutkan nama, tuliskan bagaimana pertemuan pertamamu. 


     Dirinya
Pada suatu masa, aku pernah tergelincir. Bahkan aku pernah memaksakan suatu ketidakmungkinan. Aku selalu men-semogakan harapan-harapanku. Awal pertemuan, aku dan dirinya hanyalah sesama manusia yang sedang menjalani masa orientasi. Dan secara tidak sengaja, aku dan dirinya berada dalam satu grup. Lebih dari itu, aku dan dirinya akhirnya menjadi teman satu kelas. Kemudian, ketika dihadapkan pada absensi dengan abjad berurutan; jangan ditanya lagi. Namaku dan namanya tertera hanya berbatas garis. Satu tahun berlalu, aku dan dirinya lagi-lagi berada dalam satu hal: organisasi. Begitu banyak waktu yang sudah aku dan dirinya habiskan bersama. Sayangnya, layaknya batas garis pada absensi, aku dan dirinya pun sama berbatas; berjarak dekat namun pada kenyataanya jauh. Aku menyesali pernah tergelincir, tetapi itu tidak sepenuhnya penyesalan; aku belajar bersama Dia. Belajar untuk tidak mengulanginya lagi. Belajar untuk memberi batas dengan dirinya. Kelak ketika aku dihadapkan dengan dirinya; aku tak lagi harus memutar memori dan mengulanginya.

     Kamu
Sebuah pertemuan yang menggantikan dirinya, aku tidak akan menyangka akan bertemu denganmu. Yah, inilah skenario langit. Kamu.. dimana pun kamu berada, masih kah ingat dengan ku? Pertemuan pertama aku dan kamu? Hah, mungkin saja aku seorang diri yang mengingatnya. Aku dan kamu bertemu pada suatu tempat yang tidak pernah disangka; perpustakaan, berkumpul, bercanda. Waktu itu disela-sela pergantian jam, aku dan kamu sama-sama sedang menunggu; dengan cara berkumpul dan bercanda. Waktu itu aku sedang merajut. And, I know if you look at me. Ah, itu abaikan saja. Itu hanya perasaanku. Tidak benarkan? Tentu saja! Semuanya berawal dari situ. Ketika waktu perlahan merangkak, menimbulkan percikan-percikan yang membuatku lebih berhati-hati. Lagi-lagi ini menjadi bagian yang berat bagi ku. Pasalnya, aku tidak ingin tergelincir kembali. Aku tidak ingin mempunyai batas lagi 😭 Dan sekarang, dipisahkan dengan pilihan itu membuatku berada dalam sebuah ketidakpastian; melanjutkan rasa atau menghapus rasa. Pada akhirnya, aku tahu tempatku kembali; Dia.

   Dia
Dia tidak pernah jauh. Aku yang jauh dari Dia. Dia selalu melihatku, melihat setiap langkahku, melihat hal-hal yang aku lakukan, melihat keadaanku. Dia selalu tahu awal pertemuanku dengan dirinya sekaligus kamu. Dia selalu tahu aku pernah tergelincir. Bolehkah aku menangis saat mengetahui pertemuanku dengan Dia itu terlambat? Aku bertemu dengan Dia itu sewaktu aku jatuh. Jatuh diantara hal yang aku inginkan dan hal yang tidak aku inginkan. Terlambat sudah semua waktu yang ku punya. Namun, di sisi lain, inilah jawaban tepat. Tidak ada kata terlambat, sekalipun aku menganggapnya terlambat. Saat ini, semuanya aku serahkan pada Dia. Hanya pada Dia aku menggantungkan semuanya. Entah dirinya, kamu, atau yang akan bersama dengan ku nanti. Dia--yang menciptakan aku-- pasti sudah mempersiapkan skenario terbaik.

Tidak ada pertemuan (yang) terlambat.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


Jumat, 20 Januari 2017

#Day3KF : Target & Usaha

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Hari ini kita akan membahas tentang: 5 hal yang ingin aku capai di tahun ini. Kira-kira apa ya? Mmm.. *mikir dalem-dalem* :D

Tahun baru menjadi fenomena untuk mendapatkan target baru. Ya, tahun berganti dan waktu semakin berlalu, tahun kemarin merupakan cerita bagi tahun yang akan datang.

Setiap pribadi manusia pasti mempunyai keinginan untuk mendapatkan pencapaian akan targetnya. Tetapi terlepas dari semua itu, manusia juga membutuhkan sesuatu yang dinamakan "usaha". Ya, tanpa usaha manusia tidak akan berhasil dalam menggapai targetnya.

Nah, aku sendiri punya target untuk hal-hal yang ingin aku capai di tahun ini. Tentu saja didukung dengan usaha untuk mewujudkannya. Seperti apa? Ini dia:

1. Aktif nge-blog. Aku suka menulis dan aku suka hal-hal yang berbau teknologi. Nah, dengan kesukaanku itu, aku ingin menyalurkan tulisanku di media. Mungkin udah terwujud yah, tapi tahun ini aku akan lebih serius buat hal ini. Aku nggak pengen punya blog cuma buat curhat aja. Tapi juga bermanfaat dan menginspirasi pembacanya. Jadi, aku targerkan tahun ini harus bisa menghasilkan tulisan blog yang bermanfaat. InsyaAllah..

2. Rajin menulis. Ini yang masih sulit, tapi masih merangkak untuk mencobanya :'( Aku punya cita-cita buat jadi penulis. Tapi sampai sat ini, semuanya masih stuck, belum ada progress, dulu waktu zaman sekolah pernah punya target kalau tahun 2016 udah bisa punya karya, tapi hasilnya? Nihil. Gara-gara kesibukan dan nggak memanajemen waktu dengan baik. So, tahun ini aku pengen cita-cita ku terwujud dengan aku rajin menulis. Bismillah ;)

3. Menabung. Yaps, buat mengatur keuangan itu sulit. Sesulit move on dari dia #uhuk. Aku sendiri udah ngerasain hal itu, tapi kalo nggak dipaksa, semuanya nggak akan jalan. Malah akhirnya uangnya habis dengan sia-sia. Nah, untuk tahun ini, aku punya target buat pembukuan antara pemasukan dan pembukuan keuangan. Dengan begitu, bakalan ketahuan uangnya lari kemana. *Emang punya kaki? Haha :D*

4. Nambah koleksi buku. Well, ini udah lama banget pengennya. Tapi budgetnya itu lho -_- Ini lagi-lagi soal uang. It's okay, I will solve it. Jadi, dengan aku mengatur keuangan dan aku membuat budget khusus untuk beli buku, keinginanku ini bakal terwujud. Aaamin :)

5. Manajemen waktu. Hayoo, pasti langsung kepikiran sama satu kata; TELAT! Yak, tul, ner. Udah penyakitnya orang Indonesia kalo soal TELAT itu. Tapi ini bukan masalah telat, melainkan masalah 'memanfaatkan waktu'. We have 24 hours, and what are we doing with that time? #jlebb. Ingat-ingat lagi tentang ini. Bukannya nggak santai atau nggak menikmati hidup. Tapi hidup itu cuma sebentar kan? Hari ini dunia itu nyata, akhirat itu cerita. Besok? Dunia hanya cerita, sedangkan akhirat itu nyata. Hmm, let's go muhasabah diri. Semangat! :p Caranya aku memanajemen waktu itu dengan membuat buku jurnal, yang isinya daily plan, weekly plan, dan monthly plan. Gunanya untuk me-monitor kegiatan.

Sekian dari aku, nggak ada target yang nggak mungkin bisa dicapai dengan usaha. Tetep semangat buat menggapai mimpi dan keinginan.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Kamis, 19 Januari 2017

#Day2KF : Tipe-tipe Histeris

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Hari kedua writing challenge dihadapkan dengan pertanyaan: sebutkan 3 hal yang membuat histeris.

Mengapa harus hal yang membuat histeris? Mengapa bukan hal yang membuat bahagia saja? Dua pertanyaan yang tiba-tiba menyeruak dari dasar hati tatkala membaca tema hari ini.

Histeris itu beraneka ragamnya, ada yang dalam bentuk ketakutan, bentuk kemenangan, bahkan bentuk kekalahan. Histeris bisa dikategorikan dalam suasana kemeriahan.

Menurut aku sendiri, histeris itu relatif untuk setiap pribadi. Ada yang sama dan ada juga yang tidak sama. Terkadang ada juga sebagian orang yang menganggap histeris itu alay alias berlebih-lebihan dalam mengungkapkan sesuatu.

Nah disini, aku punya ke-histeris-an sendiri, yang mungkin ada yang sama atau mungkin tidak ada yang sama. Entah dimana letak pastinya :D This is it:

1. Histeris tipe emosi: histeris itu ketika lihat orang nggak peka. Histerisnya dalam hati. Pengen jitak. Pengen nabok. Pengen makan hidup-hidup. Pada akhirnya cuma gemes sendiri deh-_-

2. Histeris tipe bangga: histeris itu waktu naik kora-kora. Yang kebanyakan bikin orang mual bahkan muntah dan teriak-teriak takut, tetapi nggak ngefek buat aku. Malah cenderung menikmati XD

3. Histeris tipe iri: histeris itu saat aku lihat orang yang bacaannya (entah Al-Qur'an atau novel, dll) itu lebih banyak. Greget banget, sampai banding-bandingin diri sendiri. Well, itu buat pemicu semangat! :D

Begitulah histeris versi Wardhina Ayu. Awalnya serius, isinya bercanda, ujungnya nggak jelas. Maafkan tulisan ini. See ya~

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.