Minggu, 29 Mei 2022
Jumat, 15 April 2022
semoga kau masih mencintaiku.
Minggu, 27 Februari 2022
pertemuan.
"akhirnya saya mengerti betapa rumit sebuah pertemuan yang tidak terduga selalu membawa perasaan yang berbeda. betapa rumitnya mengatakan bahwa pertemuan tidak terduga itu sebenarnya adalah satu-satunya hal yang menghubungkan kita. saya tidak tahu misteri apa yang disembunyikan oleh semesta."
- 30 Desember 2019
Kamis, 08 Oktober 2020
Jawaban

Jadi.. seperti ini rasanya setelah sekian lama memendam suatu hal yang tidak seharusnya dilakukan? Semuanya serba sendirian bahkan jika ternyata semuanya nyata pun tetap pada akhirnya kembali sendiri. Kembali terhadap diri sendiri. Mungkin ini tepatnya bukan sesuatu yang diharapkan ya, tapi semua pertanyaan selalu berdampingan dengan jawaban. Dan.. inilah jawabannya..
Jawaban dari segala pertanyaan selama ini. Satu tahun yang lalu rasanya pernah berharap yang terbaik untuknya. Satu tahun kemudian memang benar ini yang terbaik untuknya. Setelah seiring berjalannya waktu memang bukan rahasia lagi bahwa semua jalan hidup menemui jawabannya masing-masing.
Kehendakmu dengan kehendak-Nya tentu saja berbeda. Apa yang kamu inginkan belum tentu apa yang Dia inginkan. Sedangkan apa yang Dia inginkan belum tentu kamu inginkan pula. Sebelum semua terlambat, mungkin inilah jawaban terbaik untukku. Untuknya juga.
Pada akhirnya.. mendoakan yang terbaik untuknya adalah satu keharusan yang harus dilakukan. Bukan begitu?
Dan pada akhirnya.. menyadari diri sendiri telah salah melakukan suatu tindakan yang tidak seharusnya dilakukan adalah sebuah keharusan untuk dilakukan agar muhasabah diri itu bisa dilakukan sepanjang waktu. Bukan begitu?
Terakhir sekarang.. usai sudah semua pertanyaan itu.
Dan terakhir.. selamat melanjutkan perjalanan hidup kembali! :)
~
Yogyakarta, 08 Oktober 2020
Rabu, 25 Januari 2017
[CERPEN] : AKU BODOH!
Tidakkah kau tahu? Aku selalu menunggumu disini. Berharap kamu akan mengatakan sesuatu yang selalu aku tunggu. Berharap agar aku bisa bertemu denganmu sebelum pergi. Namun, pada akhirnya, harapan hanyalah harapan. Semua berbanding terbalik dengan kenyataan.
“Tiga bulan yang lalu. Kamu pergi tanpa kata. Meninggalkan semua waktu yang telah kita lalui bersama. Ah, bukan bersama. Hanya aku saja yang terlalu lancang menyebutnya bersama. Pada kenyataannya, aku dan kamu memang bersama dia. Ya, dia yang saat ini mengisi hatimu. Tidakkah kamu tahu? Berulang kali aku mendapatinya dengan yang lainnya. Namun, berulang kali pula aku gagal mengatakannya padamu. Kamu lebih mempercayainya dibandingkan aku yang selama ini ada denganmu.
Aku bekerja sekarang. Kamu? Masihkah menetap disana? Diantara gedung-gedung yang menjulang tinggi dan segala hiruk pikuk yang terjadi setiap harinya. Bagaimana rasanya? Akankah kamu bangga bisa bersama dengan orang-orang metropolitan? Ataukah kamu tersiksa karena kamu bukan orang metropolitan? Entahlah. Aku hanya bisa mendoakanmu disini.
Kapan kamu pulang? Aku sangat merindukanmu. Aku masih menantimu disini. Di tepi danau ditemani dengan burung-burung yang berterbangan kesana kemari. Waktu itu rasanya bahagia sekali bisa duduk disampingmu. Bercengkrama dan bercanda. Aku dan kamu seringkali menghabiskan waktu untuk melihat matahari tenggelam.
Aku harap kamu baik-baik saja disana. Jangan merasa bersalah karena kamu tak pernah pulang. Jangan merasa sedih ketika mengingat memori kita. Dan jangan meneteskan air mata ketika kamu membaca surat ini. Sudah takdir dari-Nya aku begini. Sekian dariku! Tetaplah semangat menjalani kehidupan..”
Salam,
Dewi
| Images by Google (with edit) |
Yogyakarta, 25 Januari 2017
Karya : Wardhina Ayu.



