Sabtu, 11 Agustus 2018

[REVIEW BUKU]: DILAN 1990 - PIDI BAIQ

---DILAN---
DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990
Judul Buku : DILAN 1990
Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : Pastel Books (PT Mizan Pustaka)
Tebal Buku : 348 halaman
Tahun Terbit : September, 2017 (Cetakan Ke-15)

"Kekuatan cinta tak bisa cukup diandalkan. Untuk bisa mengatakannya ada kebebasan bicara, tetapi keberanian adalah segalanya. ---Pidi Baiq, 1972-2098."

SINOPSIS :
“Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja.”
(Dilan 1990)
“Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang.”
(Dilan 1990)
“Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.”
(Milea 1990)

“Hampir saja ku jatuh dalam peluknya. Andai ku tak ingat dia pria, sama sepertiku. Oh Dilan!” @insanbasajan
“Begitu adiktif, dunia saya menghilang begitu membacanya.” @dinatabella
“Dilan itu keren, selamatlah aku lahir beda angkatan sama Dilan.” @anggampuh
“Ajaib, sepertinya ini bukan novel, tapi buku taktik menguasai wanita.” @Rafodumeda
“Keren. Buku ini harus dijadikan panduan hidup Anak SMA sekarang. Menteri pendidikan juga harus baca.” @faisEl_farizi
“Jangan jadi Dilan, jadilah dirimu, namun dia adalah Dilanku mengajarkan bagaimana menjadi diri sendiri.” @deweipea

REVIEW :
Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga untuk me-review novel ini. Walaupun sudah lewat tayang filmya, tapi rasanya tanganku masih gatal untuk bikin review, hehehe...

Buku ini merupakan seri pertama dari 3 seri yang ditulis oleh Pidi Baiq. Seorang penulis yang mengaku sebagai imigran dari sorga yang diselundupkan ke Bumi. Kemudian di Bumi, beliau menjadi Imam Besar The Panasdalam dan juga menulis buku trilogi Drunken. Beliau pernah lapar dan pernah ngantuk, katanya. Tapi Alhamdulillah, semua itu bisa diatasi.

Actually, pertama kali aku tertarik membaca dan mereview buku ini adalah aku kena spoiler! Bukan hasil dari membaca review novelnya, tapi dari trailer film Dilan yang sudah tayang bulan Januari 2018 kemarin. Sudah lama, ya? Dan baru review sekarang? Lu kemana aja? Kebangetan emang! *ditimpuk warganet* 🙏😄

āąĻāąĻāąĻāąĻāąĻ

Novel ini bercerita tentang romansa masa putih abu-abu ala Dilan dan Milea, yang masa pedekatenya super gemesin. Cerita bermula saat Milea pindah ke Bandung karena orang tuanya dipindah tugas. Di sekolah barunya, Milea bertemu dengan Dilan---seorang cowok yang berbeda dari yang lainnya. Pertama kali bertemu bukannya kenalan, justru meramal! 😅 Cerita mengalir seperti sekolah pada umumnya, Milea yang primadona sekolah, banyak didekati oleh cowok-cowok. Sedangkan Dilan, dia adalah anggota geng motor yang menjabat sebagai Panglima Tempur dan terkesan nakal bagi Milea. Dilan punya seribu cara untuk mendekati Milea dan meyakinkan Milea untuk memilihnya. Bagian tengah-tengah bab, kita akan bertemu dengan cerita kehidupan putih abu-abu. Dilan dengan geng motornya yang terkesan nakal, tetapi menurut Milea itu adalah cara Dilan untuk membela dirinya dan membela kehormatannya. Di bagian akhir-akhir bab, novel ini menceritakan kedekatan Dilan dan Milea dengan keluarganya, bahkan kedua tokohnya sudah saling mengenal keluarga satu sama lain.

āąĻāąĻāąĻāąĻāąĻ

Menurutku, novel ini lebih seperti curhatan Milea, karena penulis menggunakan sudut pandang pertama, dimana seorang Milea menceritakan bagaimana tokoh utamanya dari sudut pandangnya.

Dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dan tidak terlalu kaku, semua kejadian yang digambarkan dalam novel ini terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari seperti masa-masa putih abu. Asli, cuma butuh 2 hari buat ngelahap novel ini! 😁

Lewat novel ini aku belajar beberapa hal, diantaranya berikut ini:
  1. Tidak semua anak yang nakal itu buruk, siapa tahu seperti Dilan? Meskipun kelihatannya nakal, pake ikutan geng motor juga, tetapi ternyata bertanggungjawab dengan pemasalahannya sendiri. Maybe, sekilas seperti pepatah yang mengatakan bahwa, don't judge a book by it's cover, sama seperti jangan memandang buruk seseorang hanya karena tampilannya saja. #reminder
  2. "Tidak mencintai, tidak berarti membencinya." (hal. 161). Nggak semua yang nggak kita cintai menjadi kita benci, Dilan boleh saja menolak cewek selain Milea, tetapi dia tidak lantas membencinya. Biasa saja. Lagi-lagi ini soal bagaimana bersikap terhadap orang lain.
  3. Aku belajar dari ibunya Dilan, yang sangat memahami anaknya yang masih di usia labil. "Orangtua seharusnya bisa memahami anak-anak, bukan sebaliknya. Jangan anak-anak yang dipaksa harus memahami orangtua. Anak-anak belum mengerti apa-apa. Meskipun tentu saja harus kita berikan pemahaman." (hal. 185). Sebagai orang tua memang sudah semestinya memberikan bimbingan dan arahan untuk anak-anaknya, ini bermanfaat buat aku nantinya, hehe.

QUOTES TER-GEMESSS:
Dilan bilang, “Jangan rindu, itu berat. Kamu tidak akan kuat, biar aku saja.”
(Hal. 297)

Sayangnya, didalam novel ini, menurutku kurang memberi konflik yang mengena. Ada bagian yang menurutku kenapa justru hal itu nggak terjadi? Malah itu ngena banget! Tapi mungkin jawabannya ada di novel selanjutnya, semoga saja! 😊

But, overall. Aku salut dengan novel ini, mau dibilang novel teenlit, tapi bukan juga. Bikin baper dan galau, tapi bukan yang menye-menye. Aku mau menyarankan ini sebagai bacaan ringan untuk kalian yang bosan dengan bacaan berat. Dan juga, aku menyarankan buat kalian yang ingin bernostalgia dengan masa putih abu-abu, tapi aku nggak menyarankan buku ini untuk kalian yang jomblo, takut berimajinasi nemuin jodoh kayak Dilan, hahaha. 😂

Untuk novel ini, aku memberi 3,5 bintang. Ditunggu review seri selanjutnya ya, see ya!

THE BEST QUOTES :
"Orangtua seharusnya bisa memahami anak-anak, bukan sebaliknya. Jangan anak-anak yang dipaksa harus memahami orangtua. Anak-anak belum mengerti apa-apa. Meskipun tentu saja harus kita berikan pemahaman." ---Bunda.
(Hal. 185)

Selasa, 31 Juli 2018

Edisi Comeback

Selamat malam, teman-teman...

Berbekal nekat dengan mengucap bismillah, saya kepengin aktif nulis blog lagi. Entah bagaimanapun caranya. Saya terakhir nulis blog bukan Februari lalu dan ternyata apa yang saya anggap sebagai awal yang baru, belum membuahkan hasil.
Problem utama saya jelas karena waktu. Waktu saya sebagai mahasiswa tidak hanya kuliah-pulang-kuliah-pulang alias kupu-kupu, tetapi saya adalah tipikal mahasiswa kura-kura alias kuliah-rapat-kuliah-rapat. Itulah yang bikin saya mandeg nge-blog. Tetapi setelah saya pikir-pikir, sebenarnya itu bisa diatasi, wong saya punya hape yang bisa digunakan untuk nge-blog, tapi saya harus sadar kalau… instagram lebih menggoda daripada blog, karena nontonin Xabiru yang bentuknya kayak cimol lebih seru ketimbang nontonin rentetan tulisan di-blog, wqwq. Niat awalnya nyegerin mata, eh keterusan!!! Betapa waktunya jadi unfaedah banget đŸ˜ĸ nyesel kan sekarang?

Seseorang pernah berkata kepada saya ketika saya cerita kalo sudah nggak aktif nge-blog lagi (kebetulan beliau juga mantan blogger dan entah sekarang masih aktif atau enggak), “Tuh kan, dik.. selalu ada alasan untuk nggak nge-blog…” sampai sekarang saya masih ingat betul kata-katanya. Dan setiap kali saya mikirin soal nge-blog, kata-kata itu selalu muncul. (ini asli, malam ini saya nulis sambil keinget kata-kata itu---daripada saya inget kata-kata pedasmu, masih mending kata-kata beliau, haha) 😂

Problem kedua saya adalah soal fokus blog. Banyak sekali blog yang isinya sudah concern ke bidangnya masing-masing, ada travel blogger, ada food blogger, ada beauty blogger, ada book blogger, dan lain sebagainya. Sedangkan saya, yang masih amatiran ini bingung untuk fokus ke bidang apa. Saya suka semua hal, tapi kalo cuma fokus ke satu hal saja, saya belum bisa đŸ˜ļ (apalagi fokus ke kamu, saya belum bisa bangettt, masih nyelesaiin kuliah dulu).

Problem terakhir yang masih saya cari-cari ke ujung dunia kepenulisan: jawaban atas problem utama dan problem kedua tadi. Saya kepengin denger sharing dari temen-temen pembaca blog ini. Terima kasih sudah membaca keluhan saya ini dan mohon pencerahan dari teman-teman. 🙏

Selamat malam 😉

Kamis, 01 Februari 2018

Awal Yang Baru

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat malam teman-teman semua!
Apa kabar?
Sudah lama sekali aku tidak berkunjung kemari. Sekali berkunjung, aku hanya melihat traffic viewers blog dan membaca ulang tulisanku. Well, ada yang aku sayangkan ketika aku tidak menulis. Aku kehilangan duniaku. Dunia yang aku cintai sejak dahulu dan aku sangat mengharapkan itu menjadi nyata. Duh, jadi galau 😑

Ada berbagai alasan mengapa aku tidak aktif di dunia blog ini. Pertama, kuliah dan organisasi sudah cukup untuk menguras tenaga. Kuliah dan organisasi sama-sama memberi PR untukku. Yah, aku yakin itu tidak bisa dipungkiri oleh teman-teman blogger yang mungkin sekarang masih kuliah. Well, itu relatif untuk setiap orang. Tidak semuanya sama. Ada juga yang kuliah dan organisasi, tapi tetap aktif menulis. Ini soal MANAJEMEN WAKTU. Yuppp, benar sekali. Itu menjadi BIG PROBLEM untuk seorang blogger. Pasti kalau ditanya, “kok udah nggak nge-blog lagi?” pasti dijawab, “duh, sibuk nih, nggak ada waktu.” Tuh kan, selalu ada alasan untuk nggak nge-blog. 😒

Alasan kedua, selama setengah tahun kemarin aku sedang menghilang. Bukan kabur lho, ya! Tapi karena ada urusan dengan hidupku, yang perlu aku benahi. Tidak perlu aku ceritakan. Kalian juga paham mengapa aku tidak bercerita. Oke?😁
Dok. Pribadi
Dan sekarang, sudah tahun baru. Sudah ku temukan semangat baru. Sudah ku temukan resolusi yang baru. Dengan kamu, dunia blog. Dunia tulis menulis yang amat ku cintai. Kalian yang suka menulis pasti setuju kalau kita cinta sama menulis, ya kan? Anggap aja iya, hahaha. 😂

So, resolusiku nggak tinggi-tinggi. Soalnya kalau jatuh sakit :D Aku sudah cukup senang untuk berbagi tulisan dengan kalian, dan itu aku lakukan secara rutin. Bukan hanya satu bulan sekali. Bukan hanya satu tahun sekali. Bismillah.. 😊

Jujur, itu sulit. Ditengah-tengah banyak masyarakat dengan potensi minat baca yang kurang. Aku sadar betul apa tantanganku. Nggak boleh nyerah, itu kunci utama! Yang baca boleh saja sedikit, tapi kalau itu bisa membekas di hati pembaca, why not? Yang harus ku lakukan hanyalah: TERUS MENULIS. Semangat! 🙌


Dan, yang pasti aku sudah siapkan senjata, untuk memanajemen waktu saat menulis blog. Aku bikin kalender setiap minggu. Kalender ini aku desain sendiri, dilengkapi dengan notes disetiap hari tersebut. Jadi, kita bisa rencanakan apa saja yang akan kita lakukan dengan blog kita. 😍

Nah, ini dia nih penampakannya:
Dok. Pribadi



Oh iya, buat teman-teman yang ingin menggunakan desain tersebut. Bisa didownload disini, ya. 😊😊😊

Jangan lupa tinggalkan jejak dikolom komentar. Semoga bermanfaat! 🙌

Tidak lupa aku sampaikan terima kasih untuk teman-teman semua yang sudah aktif berkunjung di blog yang tidak seberapa ini. Kalau ada tulisanku yang bermanfaat, silahkan diambil manfaatnya. Kalau ada yang kurang bermanfaat, silahkan ditinggalkan. Semoga ini menjadi awal yang baru. 🙏

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Senin, 25 September 2017

Menghilang

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Lama..
Sudah lama aku menghilang dari dunia tulis menulis.
Sudah lama aku menghilang dari dunia imajinasi.
Entah.. pergi kemanakah sekarang imajinasiku? Aku harap lembar kosong yang setitik ini bisa terisi dengan tulisan yang bermakna.

Senin, 03 Juli 2017

[REVIEW BUKU]: RAKSASA DARI JOGJA - DWITASARI

Selamat malam semuanya! Kali ini aku datang dengan tema review lagi, yuk langsung simak ^^
---RAKSASA DARI JOGJA---
LIHATLAH KE ATAS. TEMUKAN CINTA.
Judul buku: Raksasa Dari Jogja
Penulis: Dwitasari
Penerbit: PlotPoint Publishing (PT Bentang Pustaka)
Tebal buku: 270 halaman
Tahun Terbit: November, 2012 (Cetakan Ketiga)

SINOPSIS :
Bianca tidak kenal cinta. Satu hal yang ia pelajari dari kedua orang tuanya bahwa cinta itu omong kosong. Ia tumbuh bersama kisah yang dibentuk dari air mata mamanya, makian dan pukulan papanya. Apa itu yang namanya cinta?

Bianca tidak paham cinta. Tapi, dinding kamarnya penuh dengan cerita-cerita tentang itu. Buku-buku itu seperti peta ke ranah fantasi bagi Bianca. Sebuah tempat asing, tempat Joshua mungkin tinggal di dalamnya.

Bianca tidak percaya cinta. Saat satu-satunya lonceng pemanggil ke arah sana telah direnggut sahabat terbaiknya. Joshua telah direbut Letisha. Belahan hatinya memilih pergi dengan belahan hatinya yang lain.

Bianca tidak punya cinta. Dengan itu ia pergi ke Jogja. Di kota itu seorang raksasa lembut mencoba memperbaiki remuk hatinya. Mencoba mendekapnya untuk mengembalikan lagi kehangatan hati. Tapi apakah Bianca masih bisa percaya bahwa cinta bukan hanya bahan jualan penulis-penulis saja?

REVIEW :
Buku ini adalah karya pertama dari kak Dwitasari. Aku pertama kali dengar nama kak Dwitasari itu dari film pertamanya—Cinta Tapi Beda—eh ternyata aku malah sudah follow twitternya juga 😃 *nggak sadar, hiks.

āąĻāąĻāąĻāąĻāąĻ

Buku ini bercerita tentang Bianca Dominique, remaja yang mempertanyakan tentang cinta. “Setiap manusia butuh cinta? Butuh jatuh cinta? Lalu, apa salahnya jika tak jatuh cinta? Bukankah jatuh itu sakit?... (hal. 4).” Diam-diam ia mencari jawaban atas pertanyaan tersebut.

Dia melihat sendiri, bagaimana kondisi keluarganya, Papanya yang begitu temperamen, seringkali mendaratkan pukulan ke Mamanya, sedangkan Mamanya sendiri terlalu lemah untuk melawan.

Bianca juga mempunyai sahabat yang bernama Letisha, yang memiliki kesamaan nasib. “Bukankah manusia selalu nyaman pada hal yang memiliki banyak kesamaan dengan dirinya?” (hal. 17). Kepada Letisha, ia menumpahkan segala cerita dan air mata. Namun, semuanya berubah ketika sahabatnya sendiri merebut cinta pertamanya, Joshua. Bianca semakin takut akan cinta. Baginya, cinta hanyalah mimpi.

Bianca memilih untuk melanjutkan kuliah di Jogjakarta. Sekaligus meninggalkan kepenatannya di Jakarta. Di Jogjakarta, Bianca tinggal bersama Bude Sumiyati dan Kevin, sepupunya yang sudah dianggapnya sebagai kakak. Bianca juga dipertemukan dengan laki-laki yang tidak biasa, karena memiliki tinggi yang melebihi orang normal, ia menyebutnya sebagai ‘Monster’. Pertemuannya menghadirkan berbagai konflik, yang akhirnya menyadarkan Bianca tentang pertanyaannya akan cinta selama ini.

āąĻāąĻāąĻāąĻāąĻ

Dari buku ini aku belajar tentang mencintai, tersakiti dan pengorbanan. Membaca cerita keluarga Bianca, membuatku sedih sekaligus gemas sendiri, apakah laki-laki itu selalu bersikap kasar dan perempuan itu selalu lemah? Mengapa laki-laki seenaknya menginjak-injak perempuan, sementara perempuan dengan polosnya berusaha mempertahankannya? Namun, pada akhirnya, ketika sudah tak sanggup lagi memikul beban, Mamanya menyerah dan mengorbankan semuanya.

Sementara membaca kisah Bianca dan Gabriel, aku ikut merasa terobati, bahwa tidak semua laki-laki itu kasar dan seenaknya sendiri. Masih ada laki-laki yang menyediakan kehangatan untuk perempuan. Dibalut dengan kejadian-kejadian lucu yang mempertemukan mereka berdua, aku cukup menikmati novel ini, kadang aku dibuatnya sedih, kadang aku dibuatnya ketawa, saat membaca logat Jawa yang banyak dipakai Vanesa, sahabat Bianca saat kuliah di Jogja.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, meski begitu pembaca tetap diajak untuk menyelami cerita dengan gaya bahasa yang ringan, sehingga mudah untuk dipahami. Aku suka konsep desain cover-nya, warna-warni tetapi tetap menyatu dengan judulnya. Ditambah dengan tagline “Lihatlah Ke Atas. Temukan Cinta”, kemudian bagian bawahnya ada gambar perempuan bertemu dengan laki-laki dengan tinggi yang tak biasa. Cukup menggambarkan detail novel ini.

Kekurangan pada novel ini, pada beberapa kalimat terdapat typo, aku menemukannya dibagian menulis nama kampus Bianca, awalnya Universitas Wiyata Yudhistira, tetapi dibagian lembar berikutnya menjadi Universitas Wiyata Mandala. Kemudian, karena setting tempatnya di kota Jogja, ada beberapa logat daerah yang nggak diberi terjemahan ke bahasa Indonesia dibagian foot note novel ini, sebagai orang Jawa aku paham dengan kalimat itu, tapi buat orang luar Jawa dan nggak familiar dengan bahasa itu, mungkin bingung cari di kamus 😅 But, that's no problem!

Over all, aku merekomendasikan novel ini buat kalian semua. Memang novel ini masuk kategori teenlit, tapi penulis mengangkat cerita yang berbeda dari novel teenlit lainnya, aku mengapresiasinya dengan memberi 3 bintang untuk novel ini, and next.. ditunggu review novel karya Dwitasari lainnya ya!

THE BEST QUOTES : 
"Apa gunanya rasa sakit dalam mencintai? Untuk tahu arti bahagia yang sebenarnya. Bahagia ada karena kita tahu rasa sakit."
(hal. 132)

Sabtu, 01 Juli 2017

[REVIEW BUKU]: GARIS WAKTU - FIERSA BESARI

---GARIS WAKTU---
SEBUAH PERJALANAN MENGHAPUS LUKA
Judul buku: Garis Waktu
Penulis: Fiersa Besari
Penerbit: Mediakita
Tebal buku: 212 halaman
Tahun Terbit: 2016

SINOPSIS :
“Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya.
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan.
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu.
Maka, ikhlaskan saja kalau begitu.
Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan.”

REVIEW :
Buku ini merupakan karya pertama dari seorang penulis bernama Fiersa Besari (yang akrab disapa sebagai “Bung”). Pertama kali denger namanya.. aku kira dia itu cewek, eh ternyata cowok. Maap maap, Bung!😂

Awalnya, Bung Fiersa ini hanyalah menganggap tulisannya sebagai curahan hati yang dia tulis di sosial media, seperti Facebook, Twitter, Blogspot. Lalu muncullah ide untuk mengumpulkan tulisan tersebut dan menyusunnya menjadi buku. Dari ide tersebut, dia merajut kembali cerita yang sudah ada, dipadu padan dan direlasikan. “Garis Waktu” terpilih sebagai judul karena mampu merepresentasikan titik-titik peristiwa penting sang ‘aku’ dengan ‘kamu’.

Pertama kali baca buku ini, aku mengira kalau buku ini adalah novel. Ternyata bukan! Kalau menurutku, ini semacam prosa yang dirangkai dengan alur yang sudah disusun rapi. Dalam buku ini, penulis menggambarkan tokohnya menggunakan sudut pandang orang pertama, membuat pembaca seperti diajak untuk merasakan hal yang sedang dibaca.

Ketika masuk pada bab pertama (yang dituliskan dengan istilah “tahun”), kita disuguhkan dengan masa-masa perkenalan dan debar-debar dalam dada. Dan ketika debar dalam dada itu mengalahkan logikamu, cerminmu seperti mengejek, “Makan itu cinta” katanya puas (hal. 16). Memasuki bab kedua dan sampai akhir, kita akan diajak menyelami masa-masa menanti, kasmaran, dan patah hati, lalu menyembuhkan luka serta mengikhlaskan. Buku ini tidak hanya mengemas soal ‘aku’ dan ‘kamu’ semata, tetapi juga mengemas tentang keluarga dan sahabat.

Tulisannya menyentuh, menyayat hati, sekaligus membuat perenungan. Emang buku ini bikin baper, tapi bapernya bukan menye-menye. Pemilihan kata yang tepat dan penggunaan kosakata yang mudah dipahami, menjadikan buku ini sebagai bacaan yang ringan.

Aku suka sama konsep desain sampul yang clean dan kesan fotografi-nya juga memberikan nilai tambah dalam buku ini. Dipadu dengan tagline “Sebuah Perjalanan Menghapus Luka”, membuat kepincut setiap orang yang tertarik dengan buku ini dari sampulnya, termasuk aku, haha😅

Over all, buku ini recommended banget untuk kamu yang suka bacaan yang puitis sekaligus galau, wkwk 😂 Dari buku ini, aku suka banget sama bagian mengikhlaskan, soalnya pengalaman #eh maksudku karena itu berkesan sekali, melepaskan sesuatu yang memang bukan ditakdirkan untuk kita itu berat dan menyakitkan, tapi terlepas dari itu, ada banyak hikmah yang kita dapat, setidaknya beban dalam hatimu berkurang. Duh, jadi baper gini-____-

Aku kasih 4 bintang untuk buku ini, and the next.. karya kedua dari Bung Fiersa sudah menanti untuk di-review; Konspirasi Alam Semesta.

THE BEST QUOTES
“Darimu aku belajar menjadi lebih baik.
Denganmu aku belajar untuk melakukan yang terbaik.
Tanpamu aku belajar untuk memperbaiki.”
(hal. 167)

Jumat, 30 Juni 2017

Review My Blog : Juni 2017

Halo, selamat malam semuanya! I'm back again :D Setelah sekian lama meninggalkan dunia nge-blog ini, sekarang aku pengen aktif lagi dan kali ini.. aku serius! Se-serius Hamish Daud yang udah ngelamar Raisa, etdah.. apaan ini? 😂

Diawal tahun 2017 ini, aku membuat resolusi untuk blog ini. Rencananya aku bisa aktif untuk menulis blog, tetapi ternyata itu cuman WACANA. Mohon digaris bawahi dan dicetak tebal. Memang perlu manajemen waktu yang baik untuk bisa tetap aktif menulis blog, disamping kegiatan diluar yang sudah cukup menyita waktu. Apalagi kesibukan kuliah dan organisasi, beuh.. enggak ada habisnya dah!
Image by Google (editted)
Nah, untuk review bulan ini.. aku cuman kepengen satu aja sih: AKTIF NGE-BLOG. Cara yang aku pakai adalah dengan menjadwal postingan dan tema blog post setiap minggunya. Aku pernah meminta salah satu teman blog untuk mengirimiku kalender bulanan dan sampai sekarang.. belum juga kesentuh! Padahal jadwalnya sudah lengkap dari bulan Januari 2017 sampai Desember 2017, sudah tertata rapi dengan hari dan tanggal juga, tapi belum menggerakkan aku untuk bisa memanajemen blog dengan baik. So sad :'(

Memang, untuk bisa rutin menulis, merangkai kata dan menemukan ide itu sulit. Yang dibutuhkan cuma satu; NIAT. Berbekal dari situ, semuanya terasa lebih ringan. Banyak sekali aku membaca tips dan trik supaya bisa aktif nge-blog, tapi kembali lagi, tanpa NIAT, segala sesuatunya seperti tanpa kekuatan dan sensasi. Tidak ada tantangan untuk bisa berkarya dengan tulisan-tulisan.

Ah, apalah aku ini. Menyemangati diri sendiri yang belum bisa bergerak ini đŸ˜ĸ Harap maklum, aku kadang rada nyeleneh, frekuensinya diluar jangkauan, dan cenderung suka nyengir kalau sudah lupa sesuatu 😂 Okay, see you on the next post! I'm ready to ngetik-ngetik selama liburan semester 😆😆😆

Sampai jumpa!

Selasa, 27 Juni 2017

So Shy!

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Selamat malam! Apa kabar, Guys? Long time no see and I miss you now. Sudah lama banget nggak aktif di dunia menulis, gara-gara sibuk menulis laporan, presentasi, proposal, dan hal seabrek lainnya lagi. Haha, sok sibuk banget ya? -_- Memasuki semester dua kemarin, aku sudah sibuk dengan kegiatan di kampus. Baik diluar kampus, maupun didalam kampus. Ah, kalau dibahas nggak ada habisnya deh. Aku aja bingung kok bisa aku ngambil itu semua, wkwk penyadaran yang terlambat :D

Disini, aku nggak mau ngomongin kesibukan aku. Aku pengen ngebahas sedikit uneg-uneg aku aja. Biar nggak dipendam sendiri, mendingan ditulis kan ya? Ada yang baca sekaligus latihan nulis, haha.. jangan lupa siapkan kopi!

Pernah nggak sih kalian punya masa lalu yang memalukan?
Pernah nggak sih kalian kalau udah mengungkit hal itu rasanya kepengen sembunyi?
Semua orang pasti pernah merasakannya.
Image by Google (editted)
Tak terkecuali aku sendiri, ya.. beberapa hari yang lalu, didalam sebuah grup chatting alumni sekolah memang sedang ramai saling bercanda dan membully. Yah, salah satunya nge-bully aku, wkwk. Bagian ini harus aku akui, aku orangnya nggak masalah waktu dibully, bahkan cenderung menikmati. Tapi, kalau sudah menyangkut masalah pribadi, itu yang nggak bisa aku nikmatin lagi. Pengen rasanya marah dan keluar dari grup, tapi kembali lagi disadarkan fungsi grup itu, grup alumni yang difungsikan untuk menjaga komunikasi sesama alumni.

Sebenarnya, masa lalu itu bermacam-macam kok. Ada yang menyenangkan, menyedihkan, bahkan memalukan sekalipun. Dari situ aku sadar, kalau memang sudah jalannya begitu, apa yang bisa dirubah? Waktu terus bergulir meninggalkan yang telah terjadi dan manusia tidak bisa merubah setiap inci kejadian yang sudah terjadi di-masa lalunya. Yang ada hanyalah, memperbaiki apa yang sudah terjadi. Dengan cara tidak mengulangi kejadian itu lagi, iya sih.. rasanya malu sekali waktu keinget sama kejadian itu. Tapi, sekali lagi.. semuanya sudah terjadi dan nggak bisa kembali. So, anggap aja seperti angin lalu, tatap kedepan dan perbaiki diri.

Sudah, mari tenangkan dirimu dengan secangkir kopi. Lalu, coba resapi apa yang sedang kamu nikmati itu. Kopi itu meski hitam, tapi dia tidak pernah malu mengakuinya. Kopi pun rasanya juga pahit, tapi tidak pernah menyembunyikannya. Jadilah seperti kopi 😄

Wassalamu'alaykum Wr. Wb.